Magelang dan Klaten Jamin Pasokan Beras Aman

Magelang dan Klaten Jamin Pasokan Beras Aman

INAPOS, JAKARTA- Kepala BB Pascapanen Kementerian Pertanian Prof. Dr. Risfaheri dalam dalam pantauan nya di Kabupaten Magelang dan Klaten, pada Minggu (7/1/2018) kemarin mendapati adanya kegiatan panen padi yang masih berlangsung di kedua wilayah tersebut.

“Pemantauan panen padi hari ini (7/1/18) dilakukan di dua kabupaten yaitu: kab. Magelang di kec. Bandongan di desa Bandongan seluas 25 Ha (varietas Inpari 33; Provitas 5-6 ton/Ha GKP), desa Trasan seluas 20 Ha (varietas Galur; provitas 4 ton/Ha GKP), dan desa Gegunung seluas 25 Ha (varietas IR64; provitas 5 ton/Ha GKP); dan kab. Klaten di desa Kauman kec. Ngawen seluas 15 Ha (varietas Cilamaya; provitas 4-5 ton/Ha GKP), desa Ngrundul kec. Kebon Arum seluas 30 Ha (varietas Bagendit; provitas 5 ton/Ha GKP) dan desa Ngriman Karang Luh kec. Klaten Selatan seluas 20 Ha (varietas Pandan Wangi; provitas 6,8 ton/Ha,”tutur Prof. Dr. Risfaheri seperti dikutip inapos.com dari siaran persnya.

Menurut Prof. Dr. Risfaheri, provitas tanaman padi di kedua wilayah tersebut berpeluang ditingkatkan bila petani menggunakan varietas unggul. Badan Litbang Pertanian, Kementan telah melepas berbagai varietas unggul padi sesuai agroekosistem.

Dijelaskan dia, pola tanam padi saat ini memang sudah berubah, dimana tanam dan panen berlangsung setiap hari. Sudah tidak aneh lagi bila menyaksikan disebelah hamparan yang sedang dipanen ada lahan yang sedang ditanam atau tanaman padi yang siap dipanen beberapa minggu kemudian.

“Kementerian Pertanian, memang mendorong agar penanaman dapat dilakukan tiga kali dalam setahun supaya dapat menggenjot produksi padi nasional. Lahan sawah yang sudah dipanen segera ditanam,”imbuh Prof. Dr. Risfaheri.

Oleh karenanya sambung dia, pendampingan terhadap petani di lapangan dilakukan sangat intensif sekali yang melibatkan penyuluh, petugas pengamat OPT, peneliti dan Babinsa.

Sementara itu Staf BPTP Balitbangtan Jawa Tengah, Sudadiyono mengemukakan, Di kec. Bandongan, sebelumnya petani disana sering gagal panen karena serangan hama tikus, namun berkat dukungan teknologi pengendalian hama tikus dan pendampingan oleh penyuluh sekarang bisa menanam tiga kali dalam setahun,

Sudadiyono menambahkan, tidak hanya pemdampingan yang intensif saja, pemerintah juga memberikan bantuan saprodi seperti pupuk bersubsidi, bantuan benih unggul, pestisida, alsintan; perbaikan jaringan irigasi; bahkan jaminan ansuransi bila tanaman padi mengalami puso.

“Semuanya itu dilakukan pemerintah untuk mengamankan swasembada pangan dan meringankan biaya produksi dari petani. Swasembada pangan adalah harga mati, dan merupakan tekad dari seluruh jajaran Kementerian Pertanian bersama para petani dan didukung oleh aparat Babinsa di lapangan,”ujarnya.

Menurut Sudadiyono, kenaikan harga gabah yang terjadi hanya fenomena sesaat, biarkanlah petani menikmati harga yang bagus tersebut.

“Impor beras tidak perlu, karena akan menyengsarakan petani. Apalagi sentra produksi padi di luar pulau Jawa sudah mulai panen pada bulan Januari ini,”pungkasnya. (red)

Comments

comments