Inapos, Papua.- Anggota DPRD Tolikara yang juga sebagai Ketua Pansus Pilkada Tolikara, Dr.Nikodemus Kogoya mengaku sangat kecewa dengan pemalangan jalan Trans Papua, Jalan Wamena-Tolikara tepatnya di Distrik Kubu yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat dari pendukung nomor urut 3, John Tabo-Barnabas Weya, lantaran tidak puas dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Untuk itu, ia meminta agar pihak keamanan dalam hal ini TNI/Polri segera bertindak untuk membuka pemalangan jalan trans Wamena-Tolikara. Hal tersebut jangan di biarkan berlarut-larut karena dampaknya akan menghambat pembangunan dan roda perekonomian disana.

“Mestinya, Jhon Tabo sebagai senior politik di wilayah pegunungan khususnya di Tolikara harus bisa legowo menerima hasil keputusan tersebut dan mengarahkan pendukungnya untuk kembali beraktivitas seperti biasanya,” kata Dr.Nikodemus Kogoya melalui pesannya, Senin (23/10/17).

Selain itu juga, legislator Partai Golkar ini menuding Jhon Tabo

lah yang memerintahkan pemalangan dan penyerbuan di kantor Kemendagri baru-baru ini.

“Itukan sudah mencoreng nama Papua lebih khusus Tolikara. Dari kejadian ini, kita semua jadi malu, sehingga dampak dari pemalangan ini yang sudah berlarut-larut dan sudah hampir sebulan, ini sudah mempengaruhi sistem perekonomian dan pemerintahan di Kabupaten Tolikara, bahkan perekonomian di Puncak Jaya, karena jalan itu merupakan akses jalan nasional satu-satunya menuju ke daerah itu,” ungkapnya.

Bahkan, lanjut Nikodemus Kogoya, akibat dari pemalangan itu, semua aktivitas pemerintah di Tolikara tidak berjalan, semua aktivitas ekonomi juga tidak berjalan, masyarakat kesulitan karena tingkat harga barang meningkat, sementara stok barang kebutuhan sehari-hari seperti sandang pangan semakin sulit.

Dikatakan, jika pemalangan itu terus dibiarkan, maka lama-lama mereka akan berkumpul semakin banyak dan akan menjadi bom waktu yang akan meledak sehingga bisa menjadi konflik lagi di tengah masyarakat.

Mestinya, lanjut Nikodemus Kogoya, dengan adanya putusan MK dan telah dilakukan pelantikan terhadap Usman G Wanimbo-Dinus Wanimbo, maka TNI dan Polri harus memback up.

Selain itu, ia juga mengaku kecewa terhadap TNI dan Polri yang dinas di Tolikara yang terkesan melakukan pembiaran terhadap pemalangan tersebut. Mestinya, mereka melakukan pendekatan persuasif kepada mereka, termasuk pendekatan holistik.

“Jadi TNI/Polri juga ada pasukan, dan Brimob juga ada disana, masa tidak mampu membuka jalan itu dan memberikan arahan-arahan yang baik. Kemudian orang-orang yang palang ini adalah orang-orang yang itu-itu saja, termasuk beberapa PNS dan mantan kadistrik,” tukasnya.

Untuk itu, Nikodemus Kogoya mendesak aparat kepolisian segera menangkap otak atau aktor intelektual pemalangan jalan tersebut.

“Otak dari pemalangan itu diambil saja, karena sudah jelas-jelas jadi provokator dan membuat onar, jadi lebih baik ditangkap saja. Jika memang secara persuasif tidak bisa, langsung buka pemalangan itu secara paksa karena sudah merugikan kepentingan umum,” tegasnya.

Apalagi, ungkap Nikodemus Kogoya, mereka juga telah mengaku akan memboikot Pilgub 2018 dan Pileg maupun Pilpres pada 2019 mendatang.

Di samping itu, mereka juga menyatakan akan mengembalikan bendera merah putih kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Mereka ini maunya apa?. Ini berarti mereka sudah pembrontak. Jadi TNI/Polri jangan membiarkan hal itu terjadi. Kami kecewa, lembaga DPR ini kecewa sekali terhadap TNI/Polri yang bertugas di Tolikara seolah-olah sengaja membiarkan berlarut-larut aksi pemalangan itu. Ini kan sangat merugikan masyarakat banyak dan juga menghambat pembangunan serta roda perekonomian di atas jadi lumpuh,” jelas Nicodemus.

Mewakili masyarakat, ia idak menginginkan terjadinya konflik horisontal yang akan merugikan semua pihak jika ada reaksi dari kelompok yang lain.

Apalagi kata Nicodemus, Tolikara dikenal sebagai daerah konflik, bukan terkenal dari prestasi pembangunannya seperti Pegunungan Bintang dan Yahukimo, namun justru tertinggal.

“John Tabo ini kenapa?, seolah-olah dia berkuasa dan punya power yang tidak bisa dilumpuhkan oleh aparat keamanan. Jujur saya kecewa, walaupun secara pribadi masih keluarga, tapi kalau kita melihat model seperti ini, saya pikir oknum yang bandel dan sudah merusak ini tidak bisa dibiarkan. Jadi, John Tabo harus ditangkap karena dialah aktor dari semua rentetan kejadian, mulai dari pengrusakan di Kemendagri hingga pemalangan di Tolikara, supaya masyarakat yang ikut-ikutan juga bisa bubar,” tandasnya.

Menurutnya,  jika mereka sudah diberi pengertian dan pemahaman lalu tidak bubar, maka Polri dan TNI harus melakukan tindakan tegas.

Namun kata Nicodemus, setelah pemalangan itu dibuka, TNI/Polri juga jangan langsung bubar, tapi harus tetap berjaga-jaga disitu selama satu minggu sampai wilayah itu betul-betul aman dan normal kembali.

Untuk itu, pihaknya berharap Sekda Kabupaten Tolikara memberikan dukungan terhadap TNI dan Polri untuk melakukan pembukaan pemalangan akses utama dari Wamena menuju Tolikara tersebut.

“Inikan sudah berlarut-larut dan ini adalah tindakan yang memalukan apalagi dengan kasus penyerangan kantor Kemendagri dan yang melakukan orang-orang itu juga dengan aktornya yang sama yaitu, John Tabo, sehingga kita tidak bisa salahkan siapa-siapa. Jadi John Tabo harus segera ditangkap,” ketus dia.

Sebab, tambah Nikodemus Kogoya, John Tabo merasa bahwa dia paling hebat, punya power yang ditakuti oleh aparat.

“Ini kan sesuatu yang tidak masuk akal. Dia punya power apa disitu, jadi sebagai Ketua Pansus Pilkada Kabupaten Tolikara kemarin, saya kecewa karena TNI/Polri lambat untuk mengatasi pemalangan itu. Untuk itu, pemerintah daerah juga segera kerjasama dengan TNI/Polri untuk memback up pemalangan itu, agar secepatnya bisa dibuka,” terang Nicodemus. (Elwan)


Komentar Anda?